KESEHATAN MENTAL SOSIAL
Beranda » Berita » Kerja Full Service, Lupa Harus Sejahtera

Kerja Full Service, Lupa Harus Sejahtera

Kerja Full Service
Kerja Full Service

Aku si anak baik yang senang bekerja dibawah tekanan, andaikan aku mesin, di usia muda justru berpotensi berpenyakit akut.

Langit baru saja cerah saat ia melangkah keluar rumah. Jaketnya yang tipis menemani perjalanan menembus ramainya orang dan kemacetan, tapi aman aja, ia sudah terbiasa. Pekerjaan menuntutnya bangun sebelum fajar, dan pulang setelah matahari tenggelam. Di dalam bus yang penuh sesak, ia menyandarkan kepala ke jendela, menghela napas panjang. Ini hari yang sama seperti kemarin, dan seperti besok. Rutinitas yang tiada henti.

Bekerja dan menghasilkan uang adalah kewajiban bagi setiap orang dewasa. Hidup memerlukan biaya untuk sendiri apalagi keluarga. Tapi di balik kesibukan mencari nafkah, ada hal-hal yang perlahan mulai disadari — kelelahan yang tak hanya terasa di tubuhnya, tapi juga di pikirannya.

Di kantor, tangannya tak pernah lepas dari keyboard, matanya terpaku pada layar laptop. Dalam sehari, ia bisa menghadiri beberapa rapat, mengurus dokumen, berkomunikasi dengan klien, semua dari balik meja yang sama. Rasanya sederhana, tak banyak bergerak, tak menguras tenaga. Tapi, punggungnya sering terasa nyeri, kepalanya kerap berdenyut, dan matanya cepat lelah.

Ia teringat berita yang pernah ia baca, bahwa banyak pekerja kantoran mengalami gangguan kesehatan karena duduk terlalu lama. Menurut sebuah penelitian dari Kementerian Kesehatan, pekerja yang kurang bergerak berisiko mengalami obesitas, diabetes, hingga penyakit jantung. Ditambah lagi, budaya lembur yang masih dianggap wajar di kantornya membuatnya pulang dalam keadaan lebih lelah dari sebelumnya. “Kerja keras itu baik, tapi kalau sampai sakit, siapa yang mau tanggung?” gumamnya dalam hati.

Sekolah, Surau, dan Rotterdam: Tiga Madrasah Kehidupan Bung Hatta

Di sela pekerjaannya, ia seringkali mendengar cerita rekan-rekannya. Ada yang merasa stuck dalam kariernya, ada yang bosan dengan rutinitas, ada pula yang mengalami burnout karena beban kerja yang terus meningkat. Ia pun pernah mengalaminya. Rasa lelah yang tidak hilang meskipun sudah tidur panjang, rasa tidak bersemangat meskipun pekerjaan sudah selesai.

Banyak artikel yang bilang kalo burnout bukan sekadar kelelahan biasa, tapi juga berpotensi menyebabkan depresi dan kecemasan. Seorang rekannya, bahkan sempat mengalami serangan panik saat dikejar deadline. Saat itu, ia hanya bisa diam, tak bisa berpikir, hingga akhirnya harus mengambil cuti untuk menenangkan diri. Ia mulai berpikir, apakah ini harga yang harus dibayar untuk bertahan di dunia kerja?

Di suatu sore, ia berbincang dengan salah satu rekan kerjanya, seorang teman lama yang kini bekerja di perusahaan startup. “gue suka kerja, tapi tiap hari rasanya kayak diperah. Gajinya bagus, tapi kerjaannya numpuk terus. Susah juga nolak kalau atasan langsung yang minta.”

Ia tertawa kecil. Ia paham betul apa yang temannya satu ini maksud. Banyak orang berpikir bahwa semakin seseorang mencintai pekerjaannya, semakin mereka bersedia mengorbankan waktu dan tenaga. Padahal, mencintai pekerjaan bukan berarti siap menerima beban kerja berlebih tanpa batas.

Bung Hatta: Patah Hati Seorang Wapres

Di sisi lain, apresiasi atas kerja keras sering kali minim. Banyak penelitian juga menyebutkan bahwa banyak pekerja mengalami tekanan mental karena kurangnya pengakuan atas usaha mereka. Sekadar ucapan terima kasih dari atasan bisa membuat perbedaan, tapi nyatanya, banyak perusahaan yang lebih fokus pada hasil ketimbang kesejahteraan karyawannya.

Di akhir pekan, Andi mencoba hal baru: berjalan-jalan di taman kota. Ia melihat orang-orang berolahraga, duduk di bangku sambil membaca, atau sekadar menikmati udara segar. “Mungkin aku juga butuh ini,” pikirnya. Ia mulai membaca tentang ergonomi kerja, bagaimana mengatur waktu agar tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan. Ia juga mulai menetapkan batasan, tidak membawa pekerjaan ke rumah, dan mencoba lebih banyak mendengarkan tubuhnya.

Pekerjaan ideal bukan hanya tentang gaji besar atau jabatan tinggi. Pekerjaan ideal adalah yang memberi ruang untuk bernapas, memberi keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi. Karena pada akhirnya, apa gunanya bekerja keras jika kesehatan terabaikan? Jika kebahagiaan justru tergadaikan?

Saat langit mulai gelap, ia pulang dengan langkah yang lebih ringan. Ia tahu, hari esok akan tetap sibuk. Tapi kali ini, ia tak ingin hanya bekerja. Ia ingin hidup.

Algoritma: Otoritas Baru yang Tidak Kita Sadari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *