PENDIDIKAN REFLEKSI
Beranda » Berita » J. Piaget dan L. Kohlberg: Jangan Jadi Dewasa yang Menyebalkan!

J. Piaget dan L. Kohlberg: Jangan Jadi Dewasa yang Menyebalkan!

J. Piaget dan L. Kohlberg: Jangan Jadi Dewasa yang Menyebalkan!
J. Piaget dan L. Kohlberg: Jangan Jadi Dewasa yang Menyebalkan!

Kita terbiasa menyamakan kedewasaan dengan pencapaian — usia, gelar, pekerjaan, atau jumlah pengikut di media sosial. Namun, ada satu bentuk kedewasaan yang kerap luput diperbincangkan: kedewasaan moral. Mampukah seseorang yang berpendidikan tinggi, atau bahkan dianggap tokoh publik, menunjukkan pertimbangan moral yang matang ketika dihadapkan pada pilihan antara yang benar dan yang nyaman?

J. Piaget dan L. Kohlberg: Jangan Jadi Dewasa yang Menyebalkan!
J. Piaget dan L. Kohlberg: Jangan Jadi Dewasa yang Menyebalkan!

Hari ini, kita hidup dalam masyarakat yang canggih secara teknologi, namun sering kali masih gamang dalam memutuskan mana yang benar dan salah ketika tidak ada pengawasan. Kita membenarkan kebohongan kecil demi kepentingan besar, menoleransi ketidakadilan selama tidak merugikan diri sendiri, atau bahkan menyalahkan korban agar hidup terasa lebih nyaman. Apakah ini karena moralitas manusia memang rapuh? Atau karena kita berhenti tumbuh secara moral setelah mencapai usia dewasa biologis?

Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg adalah dua tokoh yang menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang psikologi perkembangan moral. Mereka menekankan bahwa pertumbuhan moral bukanlah sesuatu yang otomatis terjadi seiring bertambahnya usia, melainkan hasil dari proses berpikir, interaksi sosial, dan pembelajaran yang terus-menerus. Di tengah krisis etika yang sering kita jumpai hari ini, mungkin sudah waktunya kita kembali menanyakan: sudahkah kita tumbuh menjadi manusia yang dewasa secara moral atau malah jadi manusia dewasa yang menyebalkan?

Tahapan-Tahapan Menjadi Manusia Bermoral

Jean Piaget, seorang pelopor psikologi perkembangan anak, menyatakan bahwa moralitas tidak diwariskan, tetapi dibentuk melalui interaksi sosial dan pengalaman. Ia membedakan dua tahap penting: moralitas heteronom, di mana anak melihat aturan sebagai sesuatu yang absolut dan tak bisa diubah, dan moralitas otonom, ketika anak mulai memahami bahwa aturan dapat dinegosiasikan dan dibuat bersama berdasarkan keadilan dan kesepakatan.

Sekolah, Surau, dan Rotterdam: Tiga Madrasah Kehidupan Bung Hatta

Konsep Piaget ini dikembangkan lebih lanjut oleh Lawrence Kohlberg, yang terkenal dengan Tahapan Perkembangan Moral. Menurutnya, perkembangan moral seseorang berjalan melalui tiga tingkat besar:

Tingkat Prakonvensional (taat karena takut dihukum atau karena menginginkan hadiah),

Tingkat Konvensional (taat karena ingin diakui atau karena norma sosial),

Tingkat Pascakonvensional (taat pada prinsip etika universal, bahkan jika itu bertentangan dengan aturan yang berlaku).

Kohlberg menekankan bahwa sangat sedikit orang yang benar-benar mencapai tingkat pascakonvensional. Banyak dari kita berhenti pada tahap “konvensional”: berbuat baik karena ingin dianggap baik, bukan karena benar-benar memahami mengapa itu baik.

Bung Hatta: Patah Hati Seorang Wapres

Mengapa banyak orang bisa membela tokoh yang salah hanya karena “dia guru saya”, “dia satu golongan”, atau “saya pernah dibantunya.” Padahal, kedewasaan moral menuntut kita untuk menilai tindakan, bukan hanya figur. Seperti kata Immanuel Kant, “Bertindaklah seolah-olah prinsip tindakanmu bisa menjadi hukum universal.” Inilah bentuk kebajikan yang dibangun dari kesadaran, bukan kebiasaan atau tekanan sosial.

Menjadi Dewasa Itu Proses, Bukan Status

Salah satu kekeliruan umum adalah menganggap bahwa setelah seseorang mencapai usia tertentu — katakanlah 25 atau 30 tahun — maka ia sudah dewasa dalam segala hal. Padahal, banyak orang tua secara biologis, tapi belum lulus dari tahap “moralitas anak-anak” menurut Piaget maupun Kohlberg. Mereka masih takut membuat keputusan sendiri tanpa izin “otoritas”, atau merasa bersalah bukan karena melanggar prinsip, melainkan karena takut dinilai orang.

Ini juga menjelaskan mengapa kritik sering ditanggapi sebagai serangan pribadi, bukan sebagai undangan untuk berpikir ulang. Banyak orang tak siap berbeda pendapat tanpa bermusuhan, karena belum sampai pada tahap moralitas otonom yang mampu memisahkan pendapat dengan identitas diri.

Kedewasaan moral bukanlah hasil hafalan ayat atau gelar akademik. Ia tumbuh dari keberanian bertanya, dari kemampuan mendengar yang berbeda, dan dari kebiasaan menimbang baik-buruk dengan nurani, bukan tekanan sosial. Sebagaimana kata Nelson Mandela, “Tidak ada yang lahir membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya. Orang harus belajar membenci, dan jika mereka bisa belajar membenci, mereka juga bisa diajarkan untuk mencintai.”

Algoritma: Otoritas Baru yang Tidak Kita Sadari

Menjadi manusia yang dewasa secara moral berarti berani untuk memilih yang benar, meski tidak populer. Berani berdiri sendiri, meski seluruh dunia menyuruh kita diam. Dan berani mencintai, bukan karena perintah, tetapi karena kita tahu bahwa cinta adalah pilihan etis yang paling tinggi dalam kehidupan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *